Doa Duduk di Antara Dua Sujud

  • Whatsapp

Terkadang saat kita sedang sholat, kita bingung bagaimana cara duduk diantara dua sujud yang benar dan doanya. Berikut ini adalah doa duduk diantara dua sujud beserta artinya dan posisi duduk yang benar. Doa Duduk di Antara Dua Sujud beserta Arti dan Cara Duduk yang Benar

Doa Duduk di Antara Dua Sujud beserta Arti dan Cara Duduk yang Benar

رب اغْفِرلي  (rabighfirlii), “wahai Tuhan ampunilah dosaku.” Dosa adalah beban hidup kita yang harus di kurangi bahkan di hilangkan. Kita berdoa memohon ampunan Allah SWT. Terkadang kita tidak menyadari bahwa banyaknya dosa kita juga dapat menjadikan kita malas untuk beribadah, dan dapat mendekatkan kita pada kemungkaran. Untuk itulah kita memohon ampun kepada Allah SWT.

وَارْحَمْنِى (warhamnii), “sayangilah diriku.” Allah adalah zat yang penuh dengan kasih sayang. Allah memiliki sifat Maha Pengasih dan Penyayang, tidak ada kasih yang melebihi kasih Allah kepada hambanya. Saat kita jauh sekalipun Allah tetap ada dan menyayangi kita. Untuk itu sudah sepantasnya kita memohon kasih sayangnNya agar tetap berada pada lindunganNya.

واجبرني (wajburnii), “tutuplah segala aibku.” Tidak dapat kita pungkiri, manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna namun juga makhluk yang penuh dosa. Seringkali kita lalai, melakukan kesalahan-kesalahan. Siapa lagi yang dapat menutup aib kita selain Allah? Untuk itu dalam setiap sholat kita kita memohon agar Allah menutup aib-aib kita.

وَارْفَعْنِي (warfa’nii), “tinggikanlah derajatku.” Hanya Allah lah yang mampu meninggikan derajat seorang hamba. Tidak terbayangkan bila derajat kita sama dengan hewan. Untuk itu kita ditinggikan derajatnya, diberikan akal dan pikiran agar dapat merasakan kuasa Allah yang begitu besarnya.

وَارْزُقْنِى  (warzuqnii), “berikanlah aku rezeki.” seluruh makhluk hidup di dunia ini sejatinya pasti mendapatkan rozki dari Allah, karena tidak hanya manusia yang mendapatkannya. Salah satu nama Allah adalah Sang Maha Pemberi Rizki. Rizki yang kita dapatkan menjadi barokar atau tidak tergantung pada cara kita menjemputnya. Jika  kita menjemputnya dengan cara yang baik dan halal maka akan membawa keberkahan bagi hidup kita. Begitu pula sebaliknnya, apabila kita menjemputnya dengan cara yang tidak baik atau haram maka sudah pasti apa yang kita dapatkan tidak akan di berkahi rizki dari Allah SWT. Rizki yang halal dan barokah juga menjadikan diri kita senantiasa untuk lebih bersyukur dan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

وَاهْدِنِى (wahdini), “berikanlah aku petunjuk ke jalan kebahagiaan.” terkadang hidup kita diselimuti perasaan sedih, gundah atau yang lainnya, sehingga mengganggu keberlangsungan hidup kita. Untuk itu kita perlu memohon ke papa Allah agar di tuntun pada jalan kebaikan dan kebahagiaan. Dengan harapan jika yang kita jalani adalah menurut petunjuk dari Allah maka hidup kita akan lebih tentram dan bahagia.

وَعَافِنِى , (wa’aafinii), “berikanlah aku kesehatan.” kesehatan merupakan kenikmatan yang sangat luar biasa. Ketika kita diberi kesehatan maka kita dapat menjalani hari dengan lebih produktif dan bermanfaat bagi umat. Namun jika kita diberikan nekmat sakit, terkadang mengganggu produktifitas hidup kita. Untuk itu kita harus senantiasa meminta diberikan kesehatan.

Doa Duduk di Antara Dua Sujud beserta Arti dan Cara Duduk yang Benar

وَاعْفُ عَنِّى  (wa’fuannii), “Maafkan segala kesalahanku.” setiap manusia pasti memiliki kesalahn dan dosa. Sebagai seorang hamba sudah sepantasnya kita memohon ampun kepada Allah SWT. Berdoa agar kita diberikan ampun atas kesalahn-kesalahan kita.

Naisha mate, berikut ini adalah cara duduk di antara dua sujud yang benar sesuai anjuran Rasulullah? Berikut ini diantaranya:

Cara Duduk Di Antara Dua Sujud

Duduk Iq’a

Terdapat hadist yang memperbolehkan kita untuk duduk dengan cara  iq’a. yaitu dengan cara menegakkan kedua kaki kita lalu duduk di atas kedua tumit kaki, dan jari-jari kaki menghadap ke kiblat. Seperti yang dikatakan oleh seorang tabi’in, Thawus bin Kaisan rahimahullah mengatakan:

قُلنا لابنِ عباسٍ في الإقعاءِ على القدَمينِ . فقال : هي السنةُ . فقلنا له : إنا لنراهُ جفاءً بالرجلِ . فقال ابنُ عباسٍ : بل هي سنةُ نبيِّكَ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ

“Kami bertanya mengenai duduk iq’a kepada Ibnu Abbas, ia berkata: itu sunnah. Thawus berkata: kami memandang perbuatan tersebut adalah sikap tidak elok terhadap kaki. Ibnu Abbas berkata: justru itu sunnah Nabimu Shallallahu’alaihi Wasallam.” (HR. Muslim no. 536)

Namun perlu Naisha mate ketahui bahwa ada cara duduk iq’a yang dilarang oleh Rasulullah. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, berkata:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَنَهَانِي عَنْ ثَلَاثٍ أَمَرَنِي بِرَكْعَتَيْ الضُّحَى كُلَّ يَوْمٍ وَالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَنَهَانِي عَنْ نَقْرَةٍ كَنَقْرَةِ الدِّيكِ وَإِقْعَاءٍ كَإِقْعَاءِ الْكَلْبِ وَالْتِفَاتٍ كَالْتِفَاتِ الثَّعْلَبِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku dengan tiga perkara dan melarangku dari tiga perkara. Memerintahkan aku untuk melakukan salat dhuha dua raka’at setiap hari, witir sebelum tidur, dan puasa tiga hari dari setiap bulan. Melarangku dari mematuk seperti patukan ayam jantan, duduk iq’a seperti duduk iq’a anjing, dan menoleh sebagaimana musang menoleh.” (HR. Ahmad no. 8106, dishahihkan Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad 15/240)

Dan duduk iq’a yang tidak diperbolehkan adalah saat kita meletakkan bokong kita di atas lantai kemudian kaki kita ada di bagian kanan dan kiri badan dalam keadaan terhampar. Seperti yang disampaikan oleh  Aisyah radhiallahu’anha ia berkata:

وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ‘uqbatusy-syaithan, juga melarang seseorang menghamparkan kedua lengannya seperti terhamparnya kaki binatang buas. (HR Muslim, no. 498)

Imam An Nawawi rahimahullah kemudian menjelaskan:

الإقعاء نوعان: أحدهما: أن يلصق أليتيه بالأرض وينصب ساقيه ويضع يديه على الأرض كإِقعاء الكلب، هكذا فسّره أبو عبيدة معمر بن المثنى، وصاحبه أبو عبيد القاسم بن سلام، وآخرون من أهل اللغة، وهذا النوع هو المكروه الذي ورد فيه النهي، والنوع الثاني: أن يجعل أليتيه على عقبيه بين السجدتين، وهذا هو مراد ابن عبّاس [رضي الله عنهما] بقوله سنة نبيّكم – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وقد نصّ الشافعي -رضي الله عنه- في البويطي والإملاء على استحبابه في الجلوس بين السجدتين

“Duduk iq’a ada dua macam: yang pertama, mendudukan bokong di atas lantai kemudian menegakkan betisnya dan meletakkan kedua tangannya di atas lantai sebagaimana duduknya anjing. Ini yang ditafsirkan oleh Abu Ubaidah Ma’mar bin Al Mutsanna. Dan muridnya yaitu Abu Ubaid Al Qasim bin Salam. Dan para ahli bahasa yang lain. Duduk jenis ini makruh dan ini yang dilarang dalam hadis. Yang jenis kedua, mendudukan bokong di atas kedua tumit di antara dua sujud. Inilah yang dimaksud Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma dalam perkataan beliau: “Ini adalah sunnah Nabimu Shallallahu’alaihi Wasallam”. Dan Imam Asy Syafi’i dalam Al Buwaithi dan Al Imla’ menyatakan duduk seperti ini dianjurkan ketika duduk di antara dua sujud” (Syarah Shahih Muslim, 5/19).

Cara duduk di antara dua sujud yang lainnya adalah dengan duduk iftirasy, yaitu dengan cara kita membentangkan punggung kaki kiri di lantai, dan mendudukinya, lalu kaki kanan ditegakkan kemudian jari-jarinya menghadap ke arah kiblat.

Abu Humaid As Sa’idi radhiallahu’anhu beliau berkata:

فَإِذَا جَلَس فِي الرَكعَتَين جَلَس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى، وإذا جلس في الركعة الآخرة، قدم رجلٌه اليسرى، ونصب الأخرى، وقعد على مقعدته

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai.”(HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226)

Terdapat juga riwayat lain:

ثُمَّ ثَنَى رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ عَلَيْهَا ثُمَّ اعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِى مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلاً ثُمَّ أَهْوَى سَاجِدًا

Kemudian kaki kiri ditekuk dan diduduki. Kemudian badan kembali diluruskan hingga setiap anggota tubuh kembali pada tempatnya. Lalu turun sujud kembali.” (HR. Tirmidzi no. 304. At Tirmidzi mengatakan hasan shahih).

Lalu,  Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu juga mengatakan:

من سُنَّةِ الصلاةِ ، أنْ تنصِبَ القدمَ اليمنَى ، واستقبالُهُ بأصابعِها القبلةَ ، والجلوسُ على اليسرَى

Diantara sunnah dalam shalat adalah menegakkan kaki kanan lalu menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat dan duduk di atas kaki kiri.” (HR. An Nasa’i no. 1157, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i)

 

Pendaftaran Reseller Naisha


Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *