Bacaan Doa Iftitah

  • Whatsapp

Doa iftitah adalah doa yang kita panjatkan setiap kali kita sholat sebelum surat Al-Fatihah di rakaat pertama. Kemudian hukum membaca doa iftitah  adalah sunnah haiyyah. Bacaan Doa Iftitah

Yang dimaksud dengan sunnah haiyyah yaitu apabila kita tidak mengerjakannya maka kita tidak harus melakukan apapun dalam artian misalnya sujud Sahwi, akan tetapi lebih utama jika kitra membacanya dalam sholat kita

Doa iftitah seperti yang sudah dijelaskan di atas,ini kita lakukan diantara takbiratul ihram dan ta’awudz sebelum membaca surat Al Fatihah.

Bacaan Doa Iftitah

Bacaan Doa Iftitah yang pertama yang dibaca oleh NU

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Allaahu Akbar kabiira, walhamdu lillaahi katsiira, wasubhaanallaahi bukratawwa ashiila. wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaati wal ardha haniifam muslimaw wamaa anaa minal musyrikiin. Inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi Rabbil ‘aalamiina. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiin.

Artinya: “Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya.

Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”

Kemudian yang ke dua doa Iftitah yang biasa dibaca oleh Muhammadiyyah:

Bacaan Doa Iftitah

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ

Allahumma baaid bainii wa baina khothoyaaya kamaa baatdta baiinal masyriki wal magrhribi, Allahumma naqinii min khothooyaa kama yunaqqos tahubul abtyaddhzu minad danas. Allahummaghsil khothoyaaya bilmaai watsalji wal barad.

Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan ku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikan lah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin”.

Lantas bagaiman hukum membaca doa iftitah?

Doa iftitah merupakan doa yang biasa kita baca dalam sholat. Doa iftitah kita baca satu kali dalam sholat yaitu setelah melakukan takbiiratul-ihraam pertama sebelum membaca surat al Fatihah. Doa iftitah dibaca dalam hati oleh imam dan makmum, dan tidak di lafalkan dengan keras.

Di Indonesia sendiri pada umumnya dibaca dalam setiap sholat fardhu yang kita lakukan dan biasanya ada dua versi. Yaitu doa iftitah menuruh Nahdatul Ulama(NU), yang kedua adalah menurut majlis tarjih Muhammadiyah. Terlepas dari versi bacaannya, hukum membaca doa iftitah dalam sholat itu sendiri adalah sunnah, lebih tepatnya lagi adalah sebagai sunnah haiyyah. Artinya, amalan doa ini adalah sunnah yang apabila kita meninggalkannya baik secara sengaja maupun tidak sengaja, maka kita  tidak disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi. Namun, karena hukumnya sunnah, maka lebih baik kita kerjakan agar dapat mendambah pahala kita.

Imam Nawawi, sebagai seorang ulama besar bermazhab Syafi’i, sangat menganjurkan kita umat muslim untuk membaca doa iftitah di setiap sholat kita, baik sholat wajib maupun sholat sunnah yang biasa kita lakukan. Bahkan, bagi muslim yang sedang sakit dan harus sholat sambal berbaring sekalipun, atau bagi para musafir yang sholat di perjalanan, membaca doa iftitah juga tetap dianjurkan oleh seorang musafir sekalipun. Kemudian bagaimna hukumnya jika seorang muslim meninggalkan doa iftitah dalam sholatnya?

Berkaitan dengan hukum doa iftitah sendiri yang bersifat sunnah, maka jika kita meninggalkannya maka sholat kita akan tetap sah atau tidak batal. Maka, jika Naisha mate pernah lupa membaca doa iftitah, Naisha mate tidak perlu khawatir karena sholatnya akan tetap sah, namun tidak akan mendapatkan pahala kesunnahannya.

Namun, ada perbedaan pendapat para ulama mengenai hukum doa iftitah pada sholat sunnah yang salamnya berbilang. Sebagai contoh sholat dengan jumlah salam berbilang misalnya adalah sholat dhuha, sholat tarawih, sholat tahajud, atau sholat rawatib dengan dua kali salam. Para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih afdhal antara doa iftitah yang dianjurkan untuk dibaca di setiap awal sholat sejumlah takbiiratul-ihraam atau cukup hanya dibaca sekali di awal sholat kita.

Pendapat para ulama yang pertama,doa iftitah cukup dibaca sekali saja di awal sholat. Pendapat para ulama ini didasari pada makna dzahir hadis Aisyah ra, saat beliau ditanya doa iftitah Nabi Muhammad SAW ketika sholat malam. Kemudian Aisyah menceritakan, ‘Nabi Shallallahu álaihi wa sallam ketika sholat malam, beliau memulai sholatnya dengan membaca doa iftitah, “Allahumma Rabba Jibril wa Mikail wa Israfil…” (HR. Muslim 1847). para ulama yang berpegang pada hadis ini, memahami secara tekstual hadist ini, bahwasannya hadist ini menunjukkan doa iftitah hanya dibaca sekali di awal sholat malam oleh Nabi Muhammad SAW, bukan di setiap selesai takbiiratul-ihraam.

Sementara itu, pendapat para ulama yang kedua menyatakan bahwa doa iftitah dibaca setiap selesai takbiiratul-ihraam. Adapun hadist yang dijadikan dasar atau dalil yaitu dari Abu Hurairah ra, bahwa setiap Nabi Muhammad SAW usai takbiiratul-ihraam, beliau diam sejenak. Kemudian hal ini membuatnya bertanyakepada Nabi Muhammad SAW, ‘Ya Rasulullah, apa yang And abaca ketika kami tidak mendengar suara Anda antara takbiiratul-ihraam dan fatihah?’ dan Nabi Muhammad menjawab, ‘Saya membaca doa iftitah, “Allahumma baa’id bainii wa baina kha-thaayaa-ya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghrib…”’

Dari hadist tersebut, secara tekstual dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW membaca doa iftitah di setiap takbiiratul-ihraam. Baik pada saat sholat wajib maupun sholat sunnah, termasuk juga pada sholat sunnah yang jumlah salamnya berbilang seperti tarawih dan yang lainnnya.

Keutamaan Doa Iftitah

Walaupun sholat yang kita lakukan tetap sah jika kita tidak membaca doa iftitah, namun alangkah ruginya apabila kita melewatkan kesempatan mendapat pahala tambahan dari Allah SWT melalui amalan ringan ini. Namun, apakah kadang kita merasa berat untuk menambah bacaan iftitah ketika sholat, terutama pada saat sholat yang jumlah salamnya berbilang seperti tarawih?

Ketika sholat tarawih, Naisha mate dapat membaca doa iftitah yang lebih pendek, salah satunya adalah

Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih..

Artinya: “Segala puji bagi Allah (aku memuji-Nya) dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh keberkahan”.

Nabi Muhammad SAW pernah mendengar ada salah seorang sahabat yang membaca doa iftitah ini, kemudia beliau mengatakan, “Saya melihat ada 12 malaikat yang berebut untuk mengantarkan doa ini (kepada Allah)”. (HR. Muslim 1385, Ibnu Hibban 1761, dan yang lainnya).

Dengan mengetahui keutamaan membaca doa iftitah ketika melakukan sholat, meskipun sunnah kita akan mendapatkan tambahan pahala, bukankah itu dapat dijadikan amalan penambah pahala di setiap sholat kita?  Untuk itu, yuk Naisha mate mulai sekarang jangan kita anggap remeh lagi bacaan doa iftitah, meski hukum membacanya dalam sholat adalah sunnah.

Baca juga: Doa Duduk di Antara Dua Sujud

 

 

Pendaftaran Reseller Naisha


Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *