Doa Tayamum, Lengkap dengan Dasar Hukumnya

  • Whatsapp

Tayamum adalah tata cara bersuci sebagai pengganti wudhu dan mandi bila tak ada air atau ada halangan lainnya.  Hukum melakukan tayamum ini didasari pada Al Quran dan hadits. Doa Tayamum

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 6,

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.”.

Dalam melakukan tayamum, media yang dibolehkan untuk dipergunakan adalah debu dan tanah. Tayamum sendiri boleh dilakukan saat kita kesulitan mendapatkan air ataupun saat kita sedang sakit. Doa Tayamum

Tayamum tidak dibolehkan jika ternyata telah ditemukan air bagi orang yang bertayamum karena ketidakadaan air. Kemudian juga telah adanya kemampuan menggunakan air atau sudah tidak sakit lagi  bagi orang yang bertayammum karena ketidak mampuannya menggunakan air.

Dasar Hukum Tayamum

Dasar hukum tentang tayamum dari hadits Rasulullah SAW sangatlah banyak, tetapi salah satunya adalah hadist yang diriwayatkan dari Imran bin Hushain ra dia berkata,

“Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu beliau shalat mengimami kami. Tatkala shalat selesai, ada seorang laki-laki yang shalat sendirian, memisahkan diri dari orang banyak. Beliau bertanya kepadanya, ‘Wahai fulan, mengapa kamu tidak shalat bergabung dengan orang banyak?’ Orang tersebut menjawab, ‘Wahai Nabi Allah, tadi malam saya junub tetapi saya tidak mendapatkan air.’ Beliau menjawab, ‘Kamu boleh bersuci dengan tanah, dan hal itu sudah cukup bagimu’.” (HR. Al_Bukhari dan Muslim)

Pada dasarnya hukum tayamum menjadi wajib ketika kita tidak menemukan sumber air ataupun sakit dan tidak diperkenankan untuk menggunakan air. Namun ada perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang hukum bertayamum. Doa Tayamum

Hukum ini telah di jima’I oleh para ulama. Pada saat itu para imam berselisih pendapat mengenai makna yang dinamai Sha’id. Asy Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa Sha’id itu adalah turab yang artinya tanah. Karenanya kita tidak boleh bertayamum melainkan dengan tanah yang suci atau dengan pasir yang berdebu.

Kemudian Abu Hanifah, dan Malik mengatakan : Sha’id itu artinya adalah bumi. Oleh karena itu kita boleh melakukan tayamum dengan bumi dan dengan segala suku-sukunya, walaupun yang tak ada debu padanya. Dan Malik berkata : “boleh bertayamum dengan segala yang berhubungan dengan bumi, seperti tumbuh-tumbuhan.”

Lalu Abu Hanifah berpendapat, “Lazim orang tersebut keluar dari sembahyang lalu berwudhu, terkecuali jika sembahyang yang sedang dikerjakan itu sembahyang jenazah dan sembahyang hari raya. Ahmad membatalkan segala sembahyang yang dikerjakan dengan tayamum jika ia mendapatkan air sebelum selesai sembahyangnya itu.” 

Dan menurut Malik, “Hendaklah orang tersebut bertayamum lalu sembahyang dan tak usah mengulanginya lagi. Abu Hanifah berpendapat, “Hendaklah orang tersebut meninggalkan sembahyang sehingga ia mendapatkan air lalu ia kerjakan sembahyang yang ditinggalkannya itu”. Itulah pendapat Asy Syafi’y. dan Imam –imam yang lain tidak mengharuskan kita mengulangi sembahyang itu.

Kemudian Abu Hanifah dan Malik juga berpendapat , “Bahwa apabila sebagian tubuhnya sehat dan sebagiannya luka, maka jika lebih banyak yang sehat hendaklah dibasuhnya, dan disukai iya menyapu bagian yang luka dengan air. Tetapi jika banyak yang luka, hendaklah ia bertayamum dan tidak perlu ia membasuh bagian yang luka itu. Kata Ahmad : ‘ia basuh bagian yang sehat dan bertayamum untuk bagian yang luka.”

Tata cara tayamum

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tayamum adalah bersuci dengan mengusapkan debu ke wajah dan kedua telapak tangan.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى قَالَ قَالَ عَمَّارٌ لِعُمَرَ تَمَعَّكْتُ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَكْفِيكَ الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ
Dari Abdurrahman bin Abza ia berkata; Ammar berkata kepada Umar, “Aku bergulingan (di atas pasir) lalu menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka beliau pun bersabda: “Cukup bagimu (mengusap debu) pada muka dan kedua telapak tangan.” (HR. Bukhari) [ No. 341 Fathul Bari ] shahih.

Berikut adalah tata caranya

  1. Membaca Niat

نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لِاسْتِبَاحَةِ الصَّلَاةِ للهِ تَعَالَى

Nawaitu tayammuma listibaahatishsholaati lillaahi taala.

Artinya: “Saya berniat Tayamum untuk diperbolehkannya Shalat karena Allah Ta’ala”

Atau bisa juga dengan membaca niat berikut ini:

نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لاِسْتِبَاحَةِ الصَّلاَةِ المَفْرُوضَةِ للهِ تعَاَلَى

Nawaitu tayammuma lisstibahasholaatil mafrudhoti lillahi ta’ala.

Artinya: “Saya niat tayamum agar dapat diperbolehkan melaksanakan shalat fardhu karena Allah Ta’ala”.

  1. Kemudian basuhlah wajah dengan menggunakan kedua tangan secara bergantian. Tangan sebelah kanan membasuk wajah sebelah kiri, dan tangan sebelah kiri membasuh wajah sebelah kanan.
  2. Lalu basuhlah kedua tangansampai siku. Membasuh tangan harus dilakukan bergantian. Tangan sebelah kanan untul membasuh tangan kiri. Dan kemudian tangan kiri membasuh tangan sebelah kanan.
  3. Lakukan dengan tertib atau sesuai urutan. Bertayamum harusdilakukan secara berurutan dari rukun pertama sampai selanjutnya. Tidak diperbolehkan untuk membolak-balikan urutannya.

Setelah selesai bertayamum, dianjurkan membaca doa berikut ini

Doa tayamum

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِن عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

Asyhadu anlaaa ilaaha illallah wahdahuu laa yasrikalahu wasyhadu anna muhammadan ‘abduhuu warasuuluhu. allahumaj’alnii minat tawwabiina waj’alnii minal mutathohhiriina waj’alnii min ‘ibadikash shoolihin. subhaanakallahumma wabihamdika asyhadu anlaa ilaaha illa anta astaghfiruka watuubu ilaiika.

Artinya:  ”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang ahli taubat, jadikanlah aku termasuk orang yang ahli bersuci dan jadikanlah aku termasuk golongan hamba-hamba-Mu yang shalih. Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

 

Baca juga: Doa Ayat Kursi

 

Pendaftaran Reseller Naisha


Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *