Menjaga Pahala Puasa Selama Ramadhan Yuk, dengan Cara ini

  • Whatsapp

Menjaga pahala puasa saat ramadhan merupakan salah satu hal yang memang sangat wajib kita perhatikan. Sebuah pahala puasa selama ramadhan jangan sampai berkurang. Itulah mengapa sebagai umat muslin bulan ramadhan ini merupakan salah satu bulan yang penuh berkah.

Beberapa hal atau sesuatu yang biasa kita lakukan sehari-hari dan dapat mengurangi pahala puasa kita. Maka dari itu ketika puasa rasanya wajib bagi kita semua untuk menjaga pahala puasa selama ramadhan. Hal ini akan di paparkan lengkap di bawah ini. Simak beberapa di antaranya.

1. Menjaga Pahala Puasa tanpa Marah

Hal yang mengurangi pahala puasa yang pertama adalah marah. Seperti yang kamu tahu, marah adalah penanda bahwa seseorang tiak bisa menahan hawa nafsunya.

Bahkan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sangat tidak menyukai orang yang sering marah-marah. Kecuali bila kamu marah karena adanya maksiat yang terjadi di sekitarmu.

Marah akan menyebabkan kamu melakukan hal yang mengurangi pahala puasa lainnya seperti mengatakan kata-kata kotor. Jadi bila kamu sudah marah dan mengatakan kata-kata kotor, sama saja dengan mengurangi banyak pahala berpuasamu. Karena salah satu makna berpuasa adalah menahan hawa nafsu yang tentunya marah termasuk ke dalamnya. Balasan untuk orang orang yang dapat menahan marah adalah surga di akhirat kelak.

2. Berbicara Kotor atau Tidak Ada Manfaatnya

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, salah satu hal yang mengurangi pahala puasa mengikuti marah adalah berbicara kotor atau berbicara yang tidak ada manfaatnya.

Berbicara kotor tidak terbatas kepada kata kata kotor saja, namun juga bisa berkembang menjadi bergosip yang tidak ada gunanya, serta berbicara kotor yang tidak sepatutnya. Daripada melakukan hal yang mengurangi pahala puasa satu ini, lebih baik kamu gunakan lisan untuk membaca Al-Qur’an supaya menambah pahala puasa kamu.

3. Menjaga Pahala Puasa tanpa Berbohong

Berbohong tentunya menjadi salah satu hal yang mengurangi pahala puasa yang kamu jalankan. Berbohong saja sudah dilarang dalam kehidupan sehari-hari dan tentunya akan mendapatkan dosa bila kamu berbohong.

Berbohong diharamkan dalam kondisi apapun. Bahkan berbohong tidak hanya menjadi hal yang mengurangi pahala puasa, tetapi juga bisa membatalkan puasa.

Perbuatan-perbuatan seperti sumpah palsu, kesaksian palsu, bahkan korupsi merupakan beberapa contoh berbohong yang levelnya lebih tinggi. Maka dari itu, kamu tidak boleh berbohong baik ketika sedang berpuasa di bulan Ramadan maupun di hari-hari lainnya.

Berbohong sangat merugikan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Karena itulah perbuatan berbohong juga akan mendapatkan banyak dosa.

4. Menjaga Pahala Puasa dengan Tidur Sepanjang Hari

Sebenarnya tidur merupakan hal yang baik dan merupakan salah satu ibadah di saat bulan puasa. Namun bukan berarti kamu harus tidur sepanjang hari dan hal itu tetap dihitung sebagai ibadah.

Sebaliknya, bila kamu hanya tidur-tiduran sepanjang hari di bulan Ramadan merupakan salah satu hal yang mengurangi pahala puasamu. Apalagi bila kamu tidak menjalankan ibadah wajib karena tidur di bulan puasa. Puasamu malah akan batal karenanya.

Tidur yang merupakan ibadah di bulan puasa adalah tidur dengan kurang lebih 5 menit saja untuk menghindari hal yang mengurangi pahala puasa lainnya seperti menggunjing. Maka dari itu, bukan berarti kamu harus tidur-tiduran sepanjang hari dan melupakan shalat dan membaca Alquran.

Menjaga Pahala Puasa Selama Ramadhan

Tidak menggugurkan pahala ibadah dengan kekufuran dan kesyirikan.

Jangan sampai kita menggugurkan seluruh amal ibadah dan ke-Islaman kita dengan melakukan dosa-dosa yang bisa menggugurkan syahadat kita, di antaranya adalah kesyirikan. Allah SWT berfirman,“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu, termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az Zumar: 65)

Barangkali ada yang berkata: sungguh tidak bisa dinalar, apabila ada seseorang yang telah melakukan amaliah ibadah di bulan Ramadan secara maksimal, tetapi setelah Ramadan, ia melakukan kesyirikan atau dosa-dosa lain yang menggugurkan ke-Islaman.

Namun kalau kita perhatikan hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Karena pada akhir-akhir ini, sering kali pemerintah daerah melakukan kegiatan kemusyrikan berkedok budaya. Misalnya, mengarak kereta kencana yang diberikan sesajen dan kepala kerbau, kemudian diarak keliling kota untuk mengharap keberkahan Nyi Roro Kidul. Banyak di antara kita mengikuti ritual tersebut. Tentu saja hal ini dapat merusak dan menggugurkan ke-Islam-an kita karena masuk ke wilayah i’tiqodi dan keyakinan.

Kalau mengikuti acara tersebut berarti kita telah menyerupai mereka dalam masalah akidah. Rasulullah SAW bersabda,”“Barang siapa yang meniru satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud)

Kedua menggugurkan pahala ibadah kita dengan melakukan dosa-dosa.

Jangan sampai kita menggugurkan pahala amal ibadah dengan bersikap sombong dan ria setelah melakukannya. Para ulama salaf mengatakan,“Seandainya kamu melakukan suatu dosa di malam hari, lalu kamu bersedih di pagi harinya, hal itu lebih baik daripada kamu melakukan suatu kebaikan di malam hari, lalu pagi harinya kamu menyombongkan diri dengan kebaikan tersebut.”

Tidak menyia-nyiakan pahala ibadah dengan perbuatan maksiat.

Dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah, berarti kita telah mengumpulkan dosa meskipun sebelumnya kita telah berhasil mengumpulkan pahala di sisi Allah. Sangatlah berbahaya apabila dosa-dosa yang kita lakukan justru jauh lebih besar dan berat daripada pahala yang telah kita kumpulkan.

Allah berfirman,”Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan ada pun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Haawiyah. (QS Al-Qaari’ah : 6-9)

Tidak memindahkan pahala ibadah kepada orang lain dengan menyakitinya.

Jika kita menyakiti seseorang, maka pahala kebaikan kita justru akan berpindah kepadanya. Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat,“Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu?

Para sahabat menjawab,”Orang yang muflis (bangkrut) di antara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta. Rasulullah SAW bersabda: orang yang muflis (bangkrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan salat, menjalankan puasa, dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka, akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim, Turmudzi & Ahmad)

 

 

Pendaftaran Reseller Naisha


Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *