Jangan Lupa bahwa Allah Maha Mengetahui Apa yang Kita Lakukan

  • Whatsapp
Allah maha mengetahui

Allah maha mengetahui tentang apa yang kita lakukan. Allah maha melihat yang ada di dalam hati maupun apa yang kita tengah lakukan. Jadi mau bersembunyi sejauh apapun Allah tetap mengetahui.

Allah maha mengetahui apa yang ada di dalam diri bahkan sejak kita pikirkan Allah maha mengetahui. Maka dari itu kita sebagai manusia sudah semestinya mejaga sikap dan lisan karena Allah maha mengetahui.

Allah itu melihat jejak langkah semut hitam dalam kegelapan malam di tanah yang hitam. Allah juga melihat segala yang berada di bawah lapis bumi yang tujuh dan segala yang ada di langit yang ketujuh.

Melihat itu ada dua macam:

  • Allah memiliki penglihatan
  • Allah itu memiliki bashirah, mengetahui segala sesuatu secara detail.
  • Allah maha mengetahui

Kebaikan di dunia dan di akhirat tidak akan digapai kecuali dengan perasaan merasa diawasi Allah ini. Menjaga ibadah di atas sunnah Nabi-Nya. Disertai dengan mengikhlaskan ibadah tersebut hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” [Quran Ali Imran: 5].

Dan firman-Nya,

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya.” [Quran Al-Baqarah: 235].

Allah Maha Mengetahui

Ma’asyiral muslimin,

Merasa diawasi Allah (muroqobatullah) Jalla wa A’la akan membuat seseorang hamba bermuhasabah. Ia akan menghitung-hitung dirinya. Hal ini sebagai bentuk realisasi dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Quran Al-Hasyr: 18].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hendaknya seseorang memperhatikan apa yang telah ia perbuat untuk kehidupan akhiratnya. Apakah yang ia perbuat itu adalah amal shaleh yang menyelematkannya. Atau amal keburukan yang membinasakan dan mencelakakannya.” Kemudian beliau juga mengatakan, “Perbaikan hati itu terwujud dengan memuhasabah diri. Dan rusaknya hati adalah dengan meremehkan dan menyia-nyiakannya.”

Ma’asyiral muslimin,

Sesungguhnya merasa diawasi Allah yang hakiki akan membawa seseorang pada kesungguhan dalam ketaatan. Memisahkan diri dari segala sesuatu yang menentang perintah Allah pemilik langit dan bumi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Quran Al-Anbiya: 90].

Kita Terus diawasi oleh Allah

Seorang mukmin wajib senantiasa merasa diawasi Allah. Saat ia beribadah, ia lakukan dengan penuh ketaatan pada-Nya, ikhlas, dan sempurna dalam pelaksanaannya serta berharap pahala darinya. Demikian juga dalam menyikapi larangannya, harus tunduk dan merasa takut padanya. Tentang orang yang takut dan berharap kepada Allah ini, Allah Ta’ala berfirman,

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” [Quran Ar-Rahman: 46].

Dan firman-Nya,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” [Quran An-Naziat: 40-41].

Ibnul Jauzi berkata, “(Pengetahuan) Allah itu lebih dekat dari urat leher seseorang.” Beliau melanjutkan, “Hati orang-orang yang tidak mengenal Allah akan merasa jauh dari sesuatu yang dekat. Oleh karena itu, mereka melakukan maksiat. Kalau mereka merasakan Allah itu mengawasi, dekat, dan melihat pastilah mereka berhenti dari melakukan kesalahan dan dosa.”

Ada seorang yang bertanya kepada salah seorang salaf, “Dengan siapa aku meminta tolong untuk menundukkan pandanganku?” Ia berkata, “Dengan ilmumu bahwa penglihatan Yang Maha Melihat kepadamu lebih cepat dibanding penglihatanmu pada sesuatu yang kau lihat.”

Kita juga mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دعته امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata. Mereka adalah pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya, seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah; keduanya berkumpul berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik lalu mengatakan, ‘Sungguh aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Allah maha mengetahui apa yang memang kita lakukan.

Merasa diawasi Allah Jalla wa ‘Ala membantu seseorang dalam menjauhi perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan. Membersihkan hati dari semua hal yang merusaknya. Dengan individu-individu yang baik ini terbentuklah masyarakat yang baik. Masyarakat yang diperintahkan Allah Jalla wa ‘Ala dengan firman-Nya,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Quran At-Taubah: 71]

 

Pendaftaran Reseller Naisha


Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *