Bercanda Ada Adabnya, Yuk Kita Simak Adab Bercanda Dalam Islam!

  • Whatsapp

Sebagaimana manusia pada umumnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering kali bercanda. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri, dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau, agar hati mereka menjadi gembira. Akan teteapi cara bercanda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berlebih-lebihan, tetap ada batasannya. Karena beliau memperhatikan adab bercanda.

Apabila tertawa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula, meski dalam keadaan bercanda, beliau ketika sedang bercanda juga tidak berkata kecuali yang benar.

‘Aisyah Radhiyallahu anha menuturkan,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَجْمِعًا قَطُّ ضَاحِكًا حَتَّى تُرَى مِنْهُ لَهَوَاتُهُ, إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

Artinya: “Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum” (Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim).

Adab Bercanda

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu mengisahkan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kemudian menjawab:

نَعَمْ ! غَيْرَ أَنِّي لاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا

Artinya: “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar” (Ahmad dengan sanad yang shahîh).

Berikut ini adalah beberapa contoh candaan Rasulullah shallalahu alaihi wassalam.

  1. Anas Radhiyallahu anhu mengisahkan salah satu contoh candaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanggilnya dengan sebutan:

يَا ذَا الأُذُنَيْنِ !

Artinya: “Wahai, pemilik dua telinga!” (Abu Dawud : 5002).

  1. Anas Radhiyallahu anhu juga mengisahkan, Ummu Sulaim Radhiyallahu anha memiliki seorang putera yang bernama Abu ‘Umair. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering bercanda dengannya setiap kali beliau datang. Pada suatu hari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang mengunjunginya untuk bercanda, namun tampaknya anak itu sedang sedih.

Mereka kemudian berkata: “Wahai, Rasulullah! Burung yang biasa diajaknya bermain sudah mati,” lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda dengan menjawab:

يَا اَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُغَيْرُ

Artinya: “Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” (Abu Dawud).

  1. Anas bin Malik Radhiyallahu anhu menceritakan, jika ada seorang pria dusun bernama Zahir bin Haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukainya. Dikisahkan bahwa tampang pria ini jelek.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya ketika ia sedang menjual barang dagangan. Lalu tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memeluknya dari belakang, sehingga ia tidak dapat melihat beliau. Zahir bin Harampun berteriak: “Lepaskan aku! Siapakah ini?” (H.R. Ahmad).

Saat ia menoleh iapun mengetahui, ternyata yang memeluknya ialah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka iapun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudiab berkata: “Siapakah yang sudi membeli hamba sahaya ini?”

Dia menyahut,”Demi Allah, wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Jika demikian aku tidak akan laku dijual!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas: “Justru di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala engkau sangat mahal harganya!”

Sudah tahukah apa saja yang menjadi adab bercanda dalam Islam? Yuk kita simak penjelasannnya di bawah ini!

  1. Tidak menjadikan Agama sebagai bahan candaan

Hindari candaan yang berhubungan dengan membawa-bawa tentang agama Baik agama Islam ataupun lainnya, karena ini adalah perkara serius yang tidak boleh dijadikan bahan bercandaan. Sebagaimana hadist berikut ini.

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah. ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?”

Tiga hal yang bila dikatakan dengan sungguh-sungguh akan jadi dan bila dikatakan dengan main-main akan jadi pula, yaitu nikah, talak dan rujuk.” (HR Ibnu Majah).

  1. Tidak tertawa berlebihan

Bercanda itu boleh, namun perlu diingat bahwa kita tidak boleh tertawa berlebihan. Ada kalanya kita bercanda hingga memancing tawa yang berlebihan, hingga buang air di celana misalnya, atau bahkan tertawa hingga perut terasa kram.

“Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum.” (Hadits dari Aisyah Radiyallaahu ‘anha)

Lagipula berlebihan dalam tertawa dapat mematikan hati. Rasulullah pernah bersabda:

 ”Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.’‘ (HR at-Tirmidzi).

  1. Tidak berbohong meski hanya untuk terlihat lucu

Bercanda adalah sesuatu yang menyenangkan, namun jangan sampai mengatakan suatu kebohongan hanya dengan alasan bercanda.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, para sahabat pernah melontarkan pertanyaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.

Rasulullah shalallaahu alaihi wassalaam bersabda, ”Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tak mengatakan kecuali yang benar.” (HR ath-Thabrani).

Bahkan orang yang hobi berbohong untuk melucu malah mendapatkan ancaman keras. Sebagaimana yang terkandung dalam hadist berikut ini.

“Celakalah bagi orang yang bercerita kemudian berdusta agar membuat orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud 4990, Tirmidzi 2315, Ahmad 5/5-6, Darimi 2/382, Hakim 1/46)

  1. Tidak menakut-nakuti meski untuk bercanda

Ada orang yang sengaja menakut-nakuti orang lain hanya untuk candaan. Misalnya menyamar menjadi hantu, pura-pura menjadi jahat, karena akbatnya bisa fatal. Misalnya kaget kemudian tertabrak atau celaka.

Rasulullah pernah bersabda, ”Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Dalam hadis lainnya, Rasulullah bersabda, ”Tidak halal bagi seorang Muslim membuat takut Muslim yang lain.” (HR Abu Dawud).

  1. Tidak menghina atau mengolok orang lain

Dilarang pula mengghibah atau menghina orang lain hanya demi mengundang tawa dalam percakapan. Sebagaimana yang tertuang dalam firman Allah SWT berikut ini.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zholim.” (QS. al-Hujurot[49]: 11)

Demikianlah adab canda dalam Islam, yang memang telah ditetapkan agar kita tidak berlebihan dakam bercanda dan tertawa.

Pendaftaran Reseller Naisha


Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *