Ini Rukun Puasa Ramadhan yang Harus Diperhatikan Umat Muslim

  • Whatsapp
rukun puasa ramadhan

Rukun puasa Ramadhan  merupakan salah satu hal yang wajib kita lakukan sebelum  menjalankan ibadah wajib puasa Ramadhan. Dalam Islam, setiap amalan umumnya memiliki rukun-rukun yang harus dikerjakan dan tidak boleh ditinggalkan.

Kewajiban berpuasa termuat dalam surah Al-Baqarah ayat 183, 184, 185, 186, dan 187. Dalam surah Al-Baqarah ayat 183 Allah SWT mewajibkan setiap umat muslim yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa. Berikut bacaan ayatnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Sementara, pada surah Al-Baqarah ayat 184, Allah SWT menjelaskan bagaimana kewajiban berpuasa boleh ditangguhkan. Khususnya oleh orang yang sakit. Berikut bacaan potongan ayatnya:

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

 

Apa itu Rukun Puasa Ramadhan?

 

Kata ‘rukun’ ditulis Al-Ruknu, sedangkan jamaknya adalah Al-Arkaanu. Dalam bahasa Arab, arti rukun adalah tiang penopang atau tiang sandaran penyangga utama. Dalam istilah fiqh, rukun berarti sesuatu yang ada dalam suatu amalan yang harus dikerjakan, jika ditinggalkan maka amalan tersebut batal atau tidak sah

.

Rukun  puasa Ramadhanbisa juga dikatakan sebagai suatu hal yang merupakan bagian dari tata cara rangkaian pokok dari suatu amalan yang tidak boleh ditinggalkan.  Maka simak yuk rukun puasa Ramadhan yang harus kita ketahui  di bawah ini.

Rukun Puasa Ramadhan

1.Rukun  Puasa Ramadhan Niat

Niat puasa biasanya diucapkan pada malam hari. Adapun bacaan niat sebagai berikut,

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Arab-latin: Nawaitu shauma ghadin an’adai fardi syahri ramadhani hadzihisanati lillahita’ala

Artinya: “Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala.

Niat secara bahasa diartikan sebagai maksud, bermaksud (al-qashd), sedangkan secara terminologi agama diartikan dengan: “Bermaksud mengerjakan sesuatu yang dibarengi pelaksanaannya. Apabila pelaksanaannya tertunda, tidak berbarengan dengan maksudnya, maka disebut ‘azm, azam, keinginan. Niat tidak harus diucapkan dengan lisan, karena ia merupakan pekerjaan hati.

Barangsiapa sahur di malam hari dengan maksud melaksanakan puasa, maka itu sudah termasuk niat. Niat cukup pula dihadirkan dalam hati di waktu malam bahwa ia akan berpuasa hari esok

2. Menahan Diri dari hal yang membatalkan puasa.

Batasan puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Selain rukun puasa, penting untuk mengetahui syarat wajib dari puasa itu sendiri. Dikutip dari buku Puasa: Syarat Rukun & Yang Membatalkan karangan Saiyid Mahadir, Lc, syarat wajib merupakan hal-hal yang membuat seseorang wajib hukumnya untuk berpuasa.
Syarat Wajib Puasa

Menahan atau imsak adalah menahan diri dari makanan, minuman, dan hubungan suami-istri (setubuh, jima’) sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Selain itu, ada juga hal-hal lain yang belum disebutkan, di antaranya sesuatu yang dimasukkan melalui rongga tubuh meskipun rongga itu bukan merupakan rongga yang biasa digunakan untuk makan atau minum, seperti infus.

 

Maka puasa menjadi batal dengan masuknya hal-hal semacam itu ke dalam lambung dengan disengaja, baik cara memasukkannya melalui mulut, hidung, telinga, anal, maupun infus. Adapun obat tetes yang digunakan pada mata, jika ditemukan rasanya di tenggorokan maka puasanya rusak, namun jika rasa tersebut tidak ditemukan maka puasanya tetap sah dan tidak batal.

Dijelaskan dalam buku tersebut, syarat wajib puasa ada tujuh, yakni:

  1. Beragama Islam

    Syarat pertama yang harus dipenuhi adalah beragama Islam. Umat Islam wajib hukumnya menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, bahwa seruan untuk berpuasa ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Para ulama sepakat, orang yang tidak beragama Islam tidak diwajibkan untuk berpuasa.

  2. Baligh

    Syarat kedua adalah berusia baligh. Tidak ada kewajiban bagi anak kecil yang belum baligh untuk melaksanakan puasa Ramadhan.

  3. Berakal

    Syarat selanjutnya adalah wajib hukumnya bagi orang yang berakal untuk melaksanakan puasa. Sesuai ijma’ para ulama, orang gila adalah orang yang tidak berakal sehingga mereka tidak dikenakan kewajiban untuk berpuasa.

  4. Sehat

    Sehat yang dimaksudkan di sini adalah sehat secara fisik. Orang yang sedang sakit boleh untuk meninggalkan puasa tapi wajib menggantinya di hari lain saat sudah sembuh kembali.

    Penyakit yang dimaksudkan pada syarat ini adalah penyakin yang akan bertambah parah apabila harus berpuasa atau ditakutkan sakitnya akan terlambat sembuh.

  5. Mampu

    Allah SWT mewajibkan puasa bagi orang yang mampu melakukannya. Orang tua yang sudah lemah atau jompo yang tidak memungkinkan untuk berpuasa maka boleh meninggalkannya.

    Namun, wajib menggantinya dengan membayar fidyah sebagaimana firman-Nya dalam Q.S Al-Baqarah ayat 184.

  6. Tidak dalam perjalanan

    Orang yang sedang dalam perjalanan jauh boleh meninggalkan puasa tapi wajib baginya untuk mengganti di lain hari sejumlah puasa yang ditinggalkan.

  7. Suci dari haid dan nifas

    Menurut ijma’ para ulama, wanita yang sedang haid dan nifas tidak diwajibkan untuk berpuasa. Bahkan haram hukumnya apabila mereka menjalankan puasa.

 

Sudahkah Kita Melakukan Rukun Puasa Ramadhan?

 

Tentu saja  sebagai seseorang yang sudah baliq memang semestinya menjalankan puasa ramadhan sebagaimana  mestinya. Jangan sampai   ramadhan yang mana banyak pahala  di dalamnya justru kita  tidak memiliki satupun upaya untuk terus  meraihnya. Itulah  mengapa kita harus memahami betul rukun puasa ramadhan, jangan  sampai kita tak  memahami hal ini ya. Sebagai umat muslim haruslah memahami hal yang sangat penting.

 

Pendaftaran Reseller Naisha


Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *